INEWSCIAMIS.Com – Bupati Ciamis Herdiat Sunarya memimpin Gerakan Jumat Bersih (Jumsih) pada Jumat (18/9/2026) sebagai upaya memperkuat kepedulian bersama terhadap kebersihan lingkungan.
Kegiatan tersebut melibatkan ASN, TNI, Polri, akademisi, BUMN, BUMD, lembaga vertikal serta berbagai unsur masyarakat.
Sejumlah lokasi menjadi sasaran, di antaranya Stadion Galuh, Gelanggang Galuh Taruna, Terminal Ciamis, Pasar Subuh, Pasar Manis, Jalan Letnan Samuji, Sungai Cimemen dan Jalan Rumah Sakit.
Gerakan tersebut mendapat sorotan Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA, Toto Izul Fatah. Dalam tulisannya berjudul “Bupati Herdiat dan Jumat Bersih: Politik Kebersihan untuk Ciamis ASRI”, Toto menilai Jumsih tidak hanya berkaitan dengan aktivitas membersihkan lingkungan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga capaian pengelolaan lingkungan Ciamis.
Kota Kecil Terbersih Se-Asean
Ciamis sebelumnya meraih penghargaan The 6th ASEAN Environmentally Sustainable Cities Award kategori Clean Land for Small Cities pada September 2025, Adipura Kencana kriteria 2023 diserahkan pada Maret 2024.
Menurut Toto, capaian tersebut dipertahankan karena perkembangan jumlah penduduk, aktivitas masyarakat dan perubahan pola konsumsi berpotensi meningkatkan volume sampah.
Ia menilai persoalan sampah tidak cukup ditangani dengan menambah armada pengangkut atau kapasitas tempat pemrosesan akhir.
Pemilahan sampah dari rumah, pengurangan plastik sekali pakai, bank sampah dan pengolahan sampah dari sumber menjadi bagian penting dalam pengelolaan lingkungan.
Dalam pandangannya, keterlibatan langsung pemerintah dan berbagai elemen masyarakat dalam Jumsih menunjukkan bahwa kebersihan merupakan tanggung jawab bersama.
Semangat Gerakan Indonesia ASRI
Gerakan tersebut sejalan dengan semangat Indonesia ASRI, yakni Aman, Sehat, Resik dan Indah. Bagi Toto, upaya menjaga lingkungan perlu dilakukan secara berkelanjutan agar persoalan sampah dapat dicegah sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
Herdiat juga, menunjukkan cara berpikir yang antisipatif. Ia tidak menunggu Ciamis mengalami darurat sampah terlebih dahulu untuk kemudian bertindak. Ia justru memasang alarm sejak dini.
Menurut Herdiat, sejumlah kabupaten, kota, dan provinsi telah menghadapi darurat sampah. Jika tidak bergerak sekarang, bukan tidak mungkin dua atau tiga tahun mendatang Ciamis mengalami persoalan serupa.
Gerakan kebersihan harus dilakukan secara berkelanjutan, dimulai dari rumah, lingkungan kerja, hingga ruang-ruang publik.
Cara berpikir seperti inilah yang dibutuhkan dalam kepemimpinan daerah: mencegah sebelum krisis terjadi.
Selama ini, tidak sedikit pemerintah daerah baru bergerak setelah tempat pembuangan akhir penuh, sampah menumpuk di jalan, sungai tersumbat, masyarakat melakukan protes, atau bencana banjir datang.
Herdiat memilih pendekatan berbeda. Prestasi kebersihan tidak membuatnya merasa Ciamis telah aman selamanya.
Ia memahami bahwa pertumbuhan penduduk, pola konsumsi, penggunaan plastik sekali pakai, perkembangan kawasan ekonomi, dan perubahan gaya hidup akan terus meningkatkan volume sampah.
Gerakan ini bukan karena Ciamis telah gagal mengelola kebersihan, melainkan karena pemerintah daerah ingin mempertahankan keberhasilan sekaligus mencegah ancaman yang mungkin datang.
Jumsih Sejalan dengan Gerakan Indonesia Asri
Gerakan Jumat Bersih tersebut sejalan dengan semangat Gerakan Indonesia ASRI ,Aman, Sehat, Resik, dan Indah,sebagaimana diarahkan Presiden Prabowo Subianto.
Di Ciamis, gagasan besar itu diterjemahkan Herdiat ke dalam tindakan nyata.
ASRI tidak cukup menjadi slogan yang disampaikan dalam pidato. Aman berarti lingkungan terbebas dari ancaman banjir, pencemaran, penyakit, dan bencana ekologis.
Sehat berarti masyarakat hidup dalam lingkungan dengan air, udara, tanah, serta sanitasi yang terjaga. Resik berarti kebersihan menjadi kebiasaan sehari-hari.
Kebersihan sebenarnya bukan persoalan kecil. Kebersihan berhubungan langsung dengan kesehatan, kualitas hidup, produktivitas masyarakat, daya tarik investasi, dan perkembangan pariwisata.
Daerah bersih mencerminkan pemerintahan tertib dan masyarakat disiplin. Sebaliknya, sampah menumpuk lemahnya tata kelola dan rendahnya kesadaran bersama.
Alam bukan sekadar latar tempat manusia menjalani kehidupan. Alam adalah bagian dari kehidupan itu sendiri. Merusak alam pada akhirnya sama dengan merusak masa depan manusia.
Melalui Gerakan Jumat Bersih berpesan, jangan menunggu lingkungan rusak untuk mulai peduli, jangan menunggu sampah menjadi darurat untuk mulai bergerak, dan jangan menunggu bencana datang untuk mulai mencintai alam.***

















