Ciamis,Inewsciamis.com,- Ribuan guru Raudhatul Athfal (RA) di Kabupaten Ciamis berkumpul di Gedung Islamic Center KH Irfan Hielmy, Sabtu (25/4/2026). Mereka tidak sekadar duduk berkumpul, melainkan tengah mempertajam “taji” dalam mendidik karakter anak usia dini lewat workshop kompetensi bertajuk pendidikan berbasis cinta.
Tercatat, sebanyak 1.400 kepala dan guru RA se-Kabupaten Ciamis memadati lokasi.
Mengusung tema “Safe and Character-Based School, Teaching with Heart, Inspiring with Love”, kegiatan ini menekankan bahwa sekolah harus menjadi ruang aman sekaligus laboratorium karakter bagi anak.
Menyambut Wajib Belajar 13 Tahun
Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Ciamis, H. Asep Lukman Hakim, membuka langsung gelaran tersebut.
Dalam arahannya, Asep menyoroti babak baru pendidikan nasional, yakni rencana penerapan wajib belajar 13 tahun.
”Ini kemajuan besar. Ke depan, anak yang masuk jenjang dasar wajib memiliki latar belakang prasekolah. Artinya, posisi RA kini semakin krusial dalam sistem pendidikan kita,” ujar Asep di hadapan ribuan peserta.
Lantaran posisi RA yang kian strategis, Asep mendesak para guru untuk terus meng-upgrade diri.
Apalagi, tingkat kepercayaan warga Ciamis terhadap RA tergolong tinggi. Hal ini menuntut mutu layanan yang tidak main-main.
Bukan Sekadar Calistung, Tapi Akhlak
Lebih lanjut, Asep meluruskan pandangan keliru mengenai target pendidikan anak usia dini.
Ia menegaskan bahwa tugas utama guru RA bukanlah memaksa anak jago baca, tulis, dan hitung (calistung), melainkan membangun fondasi karakter.
”Pendidikan RA tidak menuntut anak bisa calistung sejak dini. Fokus kita adalah pembentukan karakter. Menariknya, survei justru membuktikan anak lulusan RA punya kemampuan literasi, numerasi, dan akhlak yang jauh lebih unggul saat masuk SD nanti,” tuturnya.
Di sisi lain, ia juga mengingatkan para pendidik terkait transformasi data lewat EMIS GTK.
Perubahan ini menyangkut rasio minimal siswa dalam kelas yang nantinya akan berdampak langsung pada pemenuhan beban kerja guru.
Sekolah Harus Bebas Perundungan
Senada dengan itu, Ketua KKRA Kabupaten Ciamis, Hj. Lalis Lismaidah, mengingatkan para guru tentang beratnya amanah yang mereka panggul.
Menurutnya, guru adalah arsitek karakter bangsa.
”Kita tidak sekadar mengajar di kelas. Kita sedang membentuk masa depan. Sekolah harus menjelma jadi tempat yang paling nyaman dan penuh kasih sayang. Pastikan tidak ada ruang bagi perundungan (bullying) di lingkungan RA,” tegas Lalis.
Ia menambahkan, kunci utama pendidikan karakter adalah keteladanan. Guru tidak bisa hanya bicara, tapi harus menjadi cermin hidup bagi nilai-nilai yang diajarkan kepada anak didik.
Untuk memperkuat materi, panitia menghadirkan narasumber dari KPAID guna mengupas tuntas perlindungan anak di era digital.
Melalui workshop kolaborasi antara KKRA, KKGRA, dan Kemenag Ciamis ini, para guru diharapkan pulang membawa bekal baru: mendidik dengan hati, menginspirasi dengan cinta.
