News  

Melihat Ritual ‘Adan Vitu’ di Jembatan Cirahong, Simbol Kolaborasi Warisan Dunia

Ciamis,Inewsciamis.com,- Jembatan (Sasak) Cirahong bukan sekadar jalur penghubung antara Ciamis dan Tasikmalaya. Di balik kokohnya besi tua itu, tersimpan sejarah panjang yang kini diperingati warga dalam acara “Mieling Ngadegna Sasak Cirahong”, Sabtu (25/4/2026).

​Acara yang diinisiasi oleh Persatean Pesantren Ortodok (PPO) Galuh ini berlangsung khidmat.

Tak sekadar seremoni, kegiatan ini menjadi momentum peneguhan pentingnya kolaborasi antar-manusia.

​”Dalam kehidupan dunia, hubungan antar sesama manusia menjadi cerminan dari hubungan spiritual kita. Sebesar apa pun kehendak seseorang, ia tetap membutuhkan orang lain dan perjuangan,” tegas Ketua Umum PPO Galuh, KH Ahmad Musyafa, di sela-sela acara.

​Bukan Jembatan Biasa, Libatkan Tiga Negara Eropa

​Meski berdiri di pelosok Jawa Barat, Sasak Cirahong ternyata menyimpan rekam jejak internasional.

KH Ujang Habiburrohman dari Pesantren Darul Ulum Petir memaparkan, pembangunan jembatan ini pada masa lampau melibatkan kolaborasi teknis dari Belanda, Inggris, hingga Jerman.

​”Sasak Cirahong adalah cagar budaya yang punya nilai sejarah besar, bahkan berskala internasional,” ungkapnya.

​Karena statusnya sebagai cagar budaya, pihak penyelenggara berkomitmen menjadikan peringatan ini sebagai agenda tahunan.

Adapun rujukan waktunya mengacu pada peresmian jembatan yang jatuh pada 1 November 1894.

​Filosofi Ritual ‘Adan Vitu’

​Salah satu momen paling menarik dalam acara ini adalah ritual adat Adan Vitu. Dalam ritual ini, tujuh orang berdiri membentuk formasi di titik-titik krusial jembatan.

Bukan tanpa alasan, formasi ini merupakan simbol filosofis tentang kekuatan kolaborasi dalam menjaga sebuah fondasi.

​Antusiasme warga juga pecah. Masyarakat dari wilayah Galuh, Sukapura, hingga Tasikmalaya hadir secara spontan, membuktikan bahwa Cirahong memiliki tempat istimewa di hati mereka.

​Mempererat Persaudaraan Lintas Wilayah

​Acara ditutup dengan prosesi mushofahah atau bersalam-salaman massal.

Prosesi ini juga menjadi simbol penguatan persaudaraan bagi warga di perbatasan Ciamis dan Tasikmalaya tersebut.

​KH Ahmad Musyafa berpesan agar warisan sejarah ini tidak hanya dilihat sebagai benda mati, tapi juga dijaga melalui gotong royong lintas generasi.

​”Tradisi ini adalah pengingat bahwa warisan sejarah hanya akan tetap hidup apabila dijaga bersama. Semoga semangat ini terus tumbuh agar kita tidak melupakan jejak perjuangan para leluhur,” tutupnya.

Exit mobile version