INEWSCIAMIS.Com— Masjid Agung Manonjaya menyimpan jejak perkembangan sejarah arsitektur Islam di Tasikmalaya sejak pembangunan awal pada 1837 hingga sejumlah pemugaran setelah kemerdekaan.
Bangunan masjid yang menghadap Alun-Alun Manonjaya itu mempertahankan sejumlah unsur arsitektur lama, termasuk atap tumpang tiga, serambi berpilar, serta dua menara kembar.
DKM Masjid Agung Manonjaya Ustadz Asep Saepulloh menjelaskan, Catatan sejarah pada plakat dokumentasi Depdikbud Kanwil Jawa Barat dan DKM Masjid Agung Manonjaya menyebut R.T. Danuningrat membangun masjid tersebut pada 1837.Selasa (22/9/2026).
Enam dekade kemudian, R.T.A. Wiraadiningrat memperluas bangunan pada 1889 dengan menambahkan pendopo di bagian depan, beranda berpilar beton, dan dua menara di sisi gerbang utama.
Perluasan pada akhir abad ke-19 kemudian membentuk tampilan Masjid Agung Manonjaya dari kisaran 1890–1921.
Dua menara yang mengapit akses utama, serta atap bertingkat tiga dengan mustaka di bagian puncak.
“Tahun 1889 menambahkan bangunan pendopo di depan bangunan utama, dengan pilar-pilar beton bergaya Eropa, serta dua bangunan menara kembar.” ujarnya.
Memasuki masa setelah kemerdekaan, masyarakat dan pemerintah melakukan beberapa perbaikan untuk menjaga kondisi bangunan.
Renovasi berlangsung pada 1974 dan 1977, kemudian Direktorat Perlindungan Peninggalan Sejarah melakukan pemugaran pada 1988.
Restorasi berikutnya, berlangsung pada 1991–1992 dan mencakup atap, serambi timur, teras, lantai, pintu, serta jendela.
Sebelum peresmian pada 18 Februari 1992.
“Tahun 1974 renovasi atap dan dinding, dan tahun 1977 perbaikan pascagempa,”tambahnya.
“Restorasi menyeluruh pada tahun 1991–1992 menggunakan APBN Depdikbud Kabupaten Tasikmalaya .”pungkasnya**
Kabupaten Tasikmalaya
