banner 728x250
Oplus_16908288
banner 120x600
banner 468x60

INEWSCIAMIS.Com – Kejuaraan Pencak Silat Bandung Open Tournament 2026 tingkat nasional menjadi ajang pembuktian sekaligus evaluasi bagi para atlet muda Kabupaten Ciamis. Sebanyak 22 atlet yang tergabung dalam Silat Galuh Fighter (SFG) berhasil membawa pulang 22 medali dari kejuaraan yang berlangsung pada 26 hingga 30 Agustus 2026.

SFG merupakan klub gabungan dari tiga perguruan pencak silat, yakni CWPG yang dibina Coach Kurniawan Joely dan Iwan Fege, Aom Tur’at dengan Coach Rony Cahya Nugraha, serta SMI Panawangan dengan Coach Ogy.

banner 325x300

Dalam kejuaraan tersebut, SFG menurunkan 22 atlet yang terdiri atas delapan atlet usia dini tingkat SD, 12 atlet pra-remaja tingkat SMP, dan dua atlet kategori remaja tingkat SMA.

Dari keikutsertaan tersebut, para atlet SFG berhasil meraih 22 medali. Perolehan itu terdiri atas 11 medali emas dan delapan medali perak pada kelas pemula, serta medali pada kategori prestasi.

Coach SFG, Iwan Fege, mengatakan hasil tersebut menjadi catatan positif dalam proses pembinaan atlet pencak silat di Kabupaten Ciamis.

Namun, menurutnya, keberhasilan dalam sebuah kejuaraan tidak semata-mata diukur dari jumlah medali. Pengalaman bertanding menjadi bagian penting untuk membangun mental sekaligus mengukur perkembangan kemampuan atlet.

Pernyataan tersebut disampaikan Iwan usai seluruh pertandingan berakhir pada Minggu (30/8/2026), melalui sambungan telepon seluler di tengah kesibukannya setelah kegiatan.

“Medali tentu menjadi kebanggaan. Tetapi yang paling penting anak-anak mendapatkan pengalaman bertanding, membangun mental, serta bisa mengukur kemampuan ketika bertemu atlet dari daerah lain,” ujar Iwan.

Tiga Atlet Catat Prestasi

Selain capaian pada kelas pemula, SFG juga mencatat prestasi pada kategori prestasi.

Medali emas kelas L tanding putri prestasi diraih Aiyra Alifia Z, siswi SMPN 1 Ciamis kelas 7A.

Medali perak kelas F tanding putra prestasi diraih Cahya Panji Kurniawan, siswa SMPN 8 Ciamis kelas 9B.

Sementara medali perunggu kelas E tanding putra prestasi diraih Satria Izzazi G, siswa SMPN 1 Ciamis kelas 8A.

Menurut Iwan, capaian tersebut menunjukkan bahwa atlet-atlet muda Ciamis memiliki peluang untuk terus berkembang apabila mendapatkan pembinaan secara konsisten.

“Setiap pertandingan adalah evaluasi. Anak-anak harus terus meningkatkan teknik, fisik dan mental. Jangan cepat puas dengan hasil yang sudah diraih,” katanya.

Potensi Pesilat Ciamis Perlu Diperkuat

Iwan menegaskan bahwa keikutsertaan SFG dalam Bandung Open 2026 memiliki tujuan yang lebih besar, yakni mencetak bibit atlet pencak silat Kabupaten Ciamis yang mampu membawa nama baik daerah.

Menurutnya, Ciamis memiliki banyak bibit potensial yang tersebar pada berbagai kelompok usia.

Mulai dari usia dini tingkat TK dan SD, pra-remaja tingkat SMP, remaja tingkat SMA, hingga kategori dewasa.

Potensi tersebut, kata Iwan, perlu mendapatkan ruang pembinaan dan dukungan agar dapat berkembang menjadi prestasi yang berkelanjutan.

“Di Ciamis banyak bibit atlet pencak silat yang potensial. Kalau didampingi dan diberikan pembinaan secara serius, saya yakin mereka bisa berkembang dan menghasilkan prestasi yang lebih tinggi,” ungkapnya.

Karena itu, ia berharap sinergi antara perguruan pencak silat, IPSI Kabupaten Ciamis, dan Pemerintah Kabupaten Ciamis dapat semakin diperkuat.

Menurutnya, pembinaan atlet bukan hanya persoalan latihan. Atlet juga membutuhkan kompetisi yang terukur, pendampingan, evaluasi, serta dukungan agar perkembangan prestasi dapat berjalan secara berkelanjutan.

“Harapan kami tentu pembinaan pencak silat di Kabupaten Ciamis semakin diperhatikan. Anak-anak ini merupakan bibit masa depan yang perlu diberikan kesempatan untuk berkembang,” ujarnya.

Pencak Silat sebagai Warisan Budaya

Iwan juga menempatkan pencak silat tidak hanya sebagai cabang olahraga prestasi, tetapi sebagai bagian dari budaya bangsa.

Sebagai seni bela diri asli Indonesia, pencak silat memiliki nilai budaya dan karakter yang perlu dikenalkan kepada generasi muda.

Karena itu, pembinaan yang dilakukan SFG sekaligus diarahkan untuk ngamumule budaya, menjaga agar pencak silat tetap hidup dan berkembang di tengah generasi muda.

“Pencak silat bukan hanya tentang pertandingan dan medali. Ini juga merupakan seni bela diri asli Indonesia yang harus kita rawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” kata Iwan.

Menurutnya, proses latihan pencak silat juga mengajarkan berbagai nilai kehidupan, seperti disiplin, keberanian, sportivitas, tanggung jawab, kerja keras, serta menghargai sesama.

Nilai-nilai tersebut dinilai penting dalam membentuk karakter generasi muda.

Prestasi Harus Diikuti Pembinaan Berkelanjutan

Capaian 22 medali dari Bandung Open Tournament 2026 menjadi modal positif bagi SFG untuk melanjutkan proses pembinaan.

Namun, Iwan mengingatkan bahwa perjalanan atlet masih panjang.

Kemenangan dalam sebuah pertandingan harus menjadi motivasi untuk meningkatkan kualitas, bukan alasan untuk berhenti berkembang.

“Jangan cepat puas. Jadikan setiap pertandingan sebagai pengalaman dan evaluasi untuk menjadi lebih baik,” tuturnya.

Bagi Iwan, keberhasilan membangun prestasi pencak silat tidak dapat dilakukan secara instan. Dibutuhkan proses panjang, latihan yang konsisten, pembinaan yang terarah, serta dukungan berbagai pihak.

Dari Bandung Open 2026, SFG membawa pulang bukan hanya 22 medali, tetapi juga pengalaman dan pesan bahwa potensi pesilat muda Ciamis membutuhkan perhatian serta pembinaan yang berkelanjutan.

Prestasi adalah hasil dari proses. Dan proses itu membutuhkan komitmen bersama agar bibit-bibit pesilat Ciamis dapat tumbuh menjadi atlet yang mampu mengharumkan nama daerah sekaligus menjaga warisan budaya pencak silat Indonesia.***

Reporter: Nurhaeni

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *